My facebook

Rabu, 11 April 2012

Audit Public Relations pada Kegiatan Corporate Social Responsibility PT Coca Cola Bottling Indonesia Central Java

Ridlowi, Slamet (2010) Audit Public Relations pada Kegiatan Corporate Social Responsibility PT Coca Cola Bottling Indonesia Central Java. Undergraduate thesis, Diponegoro University.


Audit Public Relations pada Kegiatan Corporate Social Responsibility PT Coca Cola Bottling Indonesia Central Java, adalah penelitian mengenai evaluasi kegitan CSR “Penanaman 100 Pohon dan Perawatan Pohon di Lingkungan Mata Air senjoyo” yang dijalankan oleh PT Coca Cola Bottling Indonesia Central Java. Belakangan ini isu CSR sedang menjadi tren, sehingga tidak sedikit aktifitas PR yang menjadi bias karena perusahaan hanya memenuhi tuntutan tren untu mendapatkan pencitraan yang positif dalam waktu singkat ataupun hanya memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan oleh pemerintah, aktifitas yang dijalankan tidak mengacu pada pemberdayaan masyarakat (Community Devlopment) akan tetapi aktifitas yang dijalankan seringkali hanya bagian dari kegiatan promosi produk atau perusahaan belaka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengaudit atau mengevaluasi kegiatan CSR “penanaman 100 pohon dan perawatan pohon disekitar mata air Senjoyo, Salatiga” yang dijalankan PT.Coca-Cola Bottling Indonesia Cental Java, mulai dari tahap planing, tahap implementasi, tahap evaluasi hingga tahap pelaporan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode diskriptif kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data diskrptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan, dengan demikian laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan (Moleong, 2002:3). Sumber atau subjek informasi pada penelitian ini adalah Public Relations Manager dan Public Rlations Supervisor PT.Coca-Cola Bottling Indonesia Cental Java. Indikator audit CSR dalam penelitian ini adalah tahapan-tahapan yang menjadi prinsip dasar CSR yang dikemukakan Wibisono (2007, 125-151) yaitu: tahap penencanaan (planing) yang meliputi: (a) awareness building, (b) CSR assessment, (c) manual building. Tahap pelaksanaan (implemntasi) meliputi: (a) sosialisasi, (b) pelaksanaan, (c) internalisasi. Tahap evaluasi dan tahap pelaporan. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa program CSR yang dijalankan belum sesuai dengan prinsip-prinsip CSR salah satuntanya adalah belum adanya tahapan assessment dalam menjalankan program CSR dan program CSR yang dijalankan masih bernuansa charity. Berdasarkan kesimpulan diatas penulis merekomendasikan: (1) perlu adanya pedoman pelaksanaan kegitan CSR yang meliputi : visi, misi, tujuan, dan kebijakan. (2) menjalankan tahapan Evaluasi disetiap kegitan dan tahapan Pelaporan CSR yang baku seperti : menuangkanya dalam dokuman tertulis (CSR Report) dan menjadikanya sebagai prosedur baku dalam rangka membangun sistem informasi. (3) untuk program kegitan CSR selanjutnya PT Coca Cola Bottling Indonesia Central Java dapat mengunakan idikator-indikator tahapan kegitan CSR yang ada pada Bab III.


Sumber: http://eprints.undip.ac.id/16489/

Komunikasi Politik Ala Presiden Sby

Aulia Pohan jadi tersangka Korupsi oleh KPK. Heboh, Kejutan dan berita cantik. Komunikasi Politik Ala Presiden Sby menjadi judul artikel hari ini, semoga anda tidak kecewa, sebab sekali lagi pakde lagi bertapa mencari wangsit (weleh) untuk kebaikan diri saya, kelurga saya, blogger Indonesia, dan semua orang di Indonesia agar tersenyum dan bangga menjadi warga Indonesia serta mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan secara melimpah ini. Akhir dari proses bahagia lahir dan batin adalah pencapaian kesempurnaan hidup yaitu mengenal siapa yang menciptakan hidup, baru kemudian kita menghadapNya yang ditandai dengan keluarnya roh dari tubuh yang rapuh ini. (Loh kok jadi ngelantur)
Komunikasi Politik Ala Presiden Sby
Judul aslinya : Nilai Komunikasi Politik Sby 9.
Ini adalah contoh jika anda kebingungan membuat artikel maka ambilah dari sumbernya dalam kasus saya ini dari detik.com edisi 30 Oktober 2008. Anda ganti judulnya dan modifikasi isinya biar bisa bersaing dari segi SEO tapi masih menjaga asal usul sumber informasi. Cara ini kurang baik tapi lebih tidak baik dari pada anda copy paste apa adanya plus tidak menyebutkan sumbernya. Plus jangan lupa judulnya harus hot dan memiliki lifetime yang panjang.
Jakarta – Statement bapak SBY yang mempersilakan Komite pemberantasan Korupsi KPK untuk mengusut Besan Sby Aulia Pohan dalam kasus heboh tahun ini yaitu aliran dana BI mendapatkan pujian yang tinggi dari sudut pandang komunikasi massa. Dengan berubahnya status Aulia Pohan menjadi tersangka, kejutan pun kembali terjadi, dan ini sulit kita jumpai di masa-masa presiden sebelumnya.
“Bisa dikatakan, ini komunikasi politik yang luar biasa dari Predisen Yudhoyono. Ini kejutan untuk sebuah komunikasi politik,” tegas pengamat komunikasi politik UI Effendy Gazali ketika dihubungi detikcom, Kamis 30 Oktober 2008 malam.
Effendi Gazali mengaku sempat terkejut dengan pernyataan Presiden SBY yang memberi lampu hijau kepada tim penyidik KPK untuk mengembangkan kasus ini. Sebelumnya, pengamat komunikasi memprediksi Presiden SBY akan menggunakan kesempatan ini saat detik-detik akhir masa kampanye. Nyatanya, tidak berapa lama setelah mantan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah dijatuhi hukuman pidana penjara selama 5 tahun, Aulia pun langsung dinyatakan sebagai tersangka, suatu keputusan berani, meskipun banyak yang melihat sebelah mata.
“Saya pikir sekitar bulan Maret 2009,” jelasnya.
Menurut Effendi pengamat politik UI ini, tujuan dan target komunikasi politik sudah tercapai dalam pernyataan Presiden SBY tsb. Dalam hal direction, pemberantasan korupsi di Indonesia sudah menunjukan arah yang jelas dan berani. Namun yang masih ditunggu oleh masyarakat Indonesia adalah apakah prosesnya akan berlangsung lama atau tidak.
“Elemen direction dalam komunikasi politik sudah tepat sekali,” kata Effendi.
Dengan Aulia Pohan sebagai tersangka, Effendi memuji Predisen SBY yang sudah menepati janjinya untuk memberantas korupsi mulai dari rumahnya sendiri, mulai dari saudara sendiri, luar biasa.
“Kalau Presiden yang bepenampilan tenang dan sangat hati hati ini dikasih nilai, ini dapat nilai 9,” candanya.(mok/ape)
Link Asli:
http://www.detiknews.com/read/2008/10/31/050903/1028832/10/nilai-komunikasi-politik-sby-9

Kegiatan Public Relations Hotel Sahid Jaya Solo dalam Menjalin Hubungan dengan Pers

Ana Isnawati, Tri (2008) Kegiatan Public Relations Hotel Sahid Jaya Solo dalam Menjalin Hubungan dengan Pers.Undergraduate thesis, Diponegoro University.

Hotel Sahid Jaya Solo resmi menyandang predikat Hotel Bintang 5 sejak tanggal 8 Juli 2007. Untuk menjaga eksistensi perusahaan dimata khalayak, manajemen Hotel Sahid Jaya Solo melakukan kegiatan promosi dan publikasi. Kegiatan promosi dan publikasi merupakan bagian utama dari pekerjaan seorang Public Relations Officer. Tidak dapat dipungkiri bahwa pers adalah pihak yang sangat membantu dalam kegiatan promosi dan publikasi. Untuk memperlancar kegiatan tersebut, menjalin hubungan yang baik dengan pers menjadi sebuah hal yang utama bagi Public Relations Officer Hotel Sahid Jaya Solo. Oleh karena itu, Public Relations Officer Hotel Sahid Jaya Solo melakukan beberapa kegiatan untuk mempererat jalinan kerjasama dengan pers. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kegiatan Public Relations Hotel Sahid Jaya Solo dalam menjalin hubungan dengan pers. Hubungan pers adalah usaha untuk mencapai publikasi atau penyiaran yang maksimum atas suatu pesan atau informasi Public Relations dalam rangka menciptakan pengetahuan dan pemahaman bagi khalayak dari organisasi atau perusahaan yang bersangkutan. (Jefkins, 1997 : 113 ). Tipe penelitian ini adalah deskriptif dengan nara sumber bagian Public Relations, Departemen Marketing Hotel Sahid Jaya Solo. Sumber data diperoleh dari data primer dan data sekunder. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah Interview Guide, sedangkan teknik yang digunakan adalah dengan pengolahan data kualitatif. Dari penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa pers memiliki arti yang sangat penting dalam kelangsungan hidup sebuah perusahaan. Kegiatan promosi dan publikasi akan menjadi lebih mudah dengan dukungan dan bantuan dari pers. Dalam menjalin hubungan dengan pers, Hotel Sahid Jaya Solo melakukan beberapa kegiatan rutin yaitu Press Gathering, dan Morning Tea With Pers. Kegiatan lain yang dilakukan Public Relations Officer Hotel Sahid Jaya Solo adalah mengirim Press Release ke media, melakukan kunjungan media, mengundang pers, serta Press Greeting. Kegiatan tersebut terbukti efektif menjaga eksistensi perusahaan dimata khalayak. Dengan mengirim Press Release, setidaknya masyarakat selalu mendapatkan informasi mengenai kegiatan atau promo terbaru yang dihadirkan. Untuk menjaga hubungan yang baik dengan pers, pihak manajemen Hotel Sahid Jaya Solo melakukan beberapa bentuk kerjasama dengan pers. Misalnya dengan mengikuti tawaran sponsorship atau dengan membuat kerjasama saling menguntungkan dengan pers. Dengan bersikap terbuka kepada pers, maka pihak pers merasa dihargai dan tidak segan untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan. Pers juga menilai kegiatan – kegiatan tersebut telah dapat menunjukkan bentuk perhatian dan kepedulian Hotel Sahid Jaya Solo terhadap pers. Sikap proaktif seorang Public Relations Officer juga diperlukan dalam usaha menjaga hubungan baik dengan pers.

DAMPAK TAYANGAN TELEVISI BAGI MENTAL DAN MORAL REMAJA

Tidak dapat dipungkiri bahwa televisi di zaman sekarang ini sudah bukan barang langka lagi. Berbeda dengan satu dekade yang lalu, saat negeri ini masih mempunyai satu stasiun televisi yaitu TVRI. Dulu untuk menonton tayangan televisi yang bagus kita masih harus menunggu malam Minggu dan hari Minggu karena pada hari itu lah stasiun televisi milik pemerintah itu menayangkan tayangan yang bagus. Seperti acara musik, film dan yang lainnya.

Tapi saat ini, saat stasiun-stasiun televisi di Indonesia tumbuh bermunculan seperti jamur di musim penghujan, kita semakin mudah menyaksikan tayangan televisi. Kita tinggal memencet remote dan memilih stasiun televisi sesuai selera. Ada musik, sinetron, berita, lawak bahkan gosip yang menjadi salah satu tayangan favorit.

Namun, tanpa kita sadari, lelevisi yang kita harapkan menjadi media informasi dan edukasi telah berubah menjadi tayangan yang lebih mementingkan kepentingan sepihak dengan dihadirkannya tayangan-tayangan yang cukup kontroversial. Mereka lebih suka menayangkan hiburan yang melenakan daripada tayangan yang bisa mendidik pemirsanya. Memang, tayangan yang "mencerdaskan" ditayangkan, seperti Berita, Kuis atau Discovery. Tapi coba kita teliti, berapa persen dari sekian stasiun televisi yang ada yang peduli dengan keadaan bangsa terutama remaja? Sangat jauh dari apa yang kita harapkan. Dan jika kita hanya diam saja dengan fenomena ini, tidak menutup kemungkinan kita lah yang akan menjadi korban dari "kejahatan" tayangan televisi yang semakin mengkhawatirkan ini.

MENUNTUN REMAJA UNTUK HIDUP HEDONISRemaja adalah mereka yang telah meninggalkan kanak-kanak yang penuh ketergantungan dan menuju pembentukan tanggung jawab. Masa remaja ditandai dengan pengalaman-pengalaman yang sebelumnya belum pernah terbayangkan dan dialami. Masa remaja memang usia labil, dalam arti usia tersebut adalah di mana kita butuh eksistensi. Kita ingin diakui oleh orang di sekeliling kita. Nah, kondisi ini membuat remaja rentan, mudah dipengaruhi.

Dan di zaman ini remaja sudah mulai terpengaruh oleh budaya Barat yang salah satunya disajikan melalui tayangan televisi. Sehingga apa yang mereka lihat ingin mereka praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Tayangan sinetron yang melulu menampilkan adegan yang tidak seharusnya dilakukan oleh remaja menjadi salah satu pemicu yang mengubah daya pikir remaja. Mental mereka mulai teracuni dan jika dibiarkan akan berakibat fatal. Kehidupan mereka akan menjadi amburadul tanpa kontrol.

STOP KEKERASAN DI TELEVISIBelum lama ini Negara kita heboh dengan pemberitaan seorang siswa sebuah Sekolah Dasar di Yogyakarta yang luka bagian kepala akibat mempraktikkan tayangan Smack Down yang seyogyanya dinikmati oleh orang dewasa. Anehnya, kasus ini tidak digubris oleh pihak stasiun televisi yang menayangkan adegan kekerasan tersebut. Baru ketika semua pihak protes dan mengancam tayangan tersebut, stasiun televisi yang bersangkutan (LATIVI) menghentikan penayangan acara Smack Down.

Fenomena ini menjadi PR bagi kita untuk lebih selektif memilih tayangan televisi. Lebih-lebih orang tua. Seharusnya para orang tua lebih serius memantau anaknya ketika menonton televisi. Jangan sampai tayangan yang menjadi menu orang dewasa mereka nikmati. Sehingga apa yang kita khawatirkan tidak akan pernah terjadi. Wallahu a'lamu bis shawaab.

*) Disampaikan dalam Diskusi Mingguan Organisasi Santri ISMU, Kamis 21 Des 2006.


Sumber: http://untunx83.multiply.com/journal/item/45/DAMPAK_TAYANGAN_TELEVISI_BAGI_MENTAL_DAN_MORAL_REMAJA

Dampak Negatif Tayangan Televisi

Maraknya tayangan kekerasan melalui media televisi, baik dengan berita kriminal maupun dari sinetron-sinetron yang tidak mendidik, dianggap telah memberi dampak negatif kepada pemirsanya. Berbagai berita kriminal, dianggap justru menginspirasi dan mendorong makin maraknya tindakan kriminal lain di masyarakat. Sementara, tontonan yang mengandung unsur kekerasan, juga ditengarai mendorong orang berbuat yang sama. 


Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya. Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa pelaku kejahatan seperti pencurian, pembunuhan dan pemerkosaan mencontek kejahatan yang dilakukan sebelumnya. Salah satunya, melalui referensi dari tayangan tindak kriminalitas di televisi yang akhirnya membuat pola imitasi di masyarakat. 


Menurut salah satu peneliti, Catur Suratnoaji, penelitian itu dilakukan pada 13 orang narapidana yang ada di Sidoarjo dan Malang. Ke-13 narapidana itu mendapat ilham melakukan tindak pidana dari tayangan di televisi. Mereka memodel dari apa yang ditayangkan televisi, sebut Catur dalam pemaparannya. Sebagaian narapidana itu mengaku mendapat cara menghapus jejak atau melakukan penipuan berdasarkan apa yang mereka lihat di televisi. Dalam pemaparannya lebih lanjut, ia juga menemukan bahwa berita kriminal justru menimbulkan rasa khawatir yang berlebihan pada masyarakat. Karena itu, ia menyebut perlunya upaya untuk memperbaiki berita kriminalitas yang ada saat ini. 


Penelitian yang dilakukan ini memang belum mewakili sebagian besar masalah pertelevisian. Perlu kajian lebih jauh apakah efek buruk itu semata karena pengaruh televisi, atau juga hal lain, seperti lingkungan? Yang jelas, apapun tayangannya, kita sendirilah yang berkemampuan untuk menyaring, mana yang baik dan buruk. Bagaimana pendapat Anda?


Sumber: http://www.andriewongso.com/awartikel-460-AW_Corner-Dampak_Negatif_Tayangan_Televisi

Jumat, 06 April 2012

Pengaruh tayangan animasi di televisi terhadap perkembangan anak-anak

Sebelumnya berjudul "Dampak jurus naruto"
 yang ditulis oleh Anjrah Lelono Broto
Penulis dan Litbang LBTI


Beberapa anak berseragam merah-putih yang sedang bergerombol di halaman samping rumah sedikit menyita perhatian saya. Bukan karena anak saya ikut bergabung di sana ataupun aktifitas yang mereka lakukan mengarah ke hal-hal yang negatif. Namun aksesoris yang mereka pakai dan stilistika gerak merekalah yang menggamit hati saya. Mereka memasang sapu tangan di kepala, lengan, dan paha ala Naruto. Mereka pun juga bergaya kekonyol-konyolan dan membodohkan diri sesuai dengan karakter tokoh Naruto dalam film yang sepengetahuan saya memang bodoh.
Pemahaman saya sebagai pendidik menggiring pada kesadaran bahwa tahapan pertama dalam belajar adalah imitatif. Dengan kata lain, beragam materi yang masuk dalam benak seorang anak yang sedang menambah-nambah pengetahuannya (belajar) akan teraktualisasi dalam lakuan peniruan. Dus, materi film yang terserap ke dalam ruang benak anak-anak juga menjadi materi pembelajaran yang menambah pengetahuan dan terimplementasikan dalam bentuk lakuan fisik yang dapat direkam oleh lingkungan di sekitarnya.
Menjadi sedikit ngilu hati ini ketika lakuan fisik budi pekerti seperti salam, tata krama berbicara maupun bersikap, yang seharusnya menjadi konsumsi pembelajaran anak-anak (terutama usia dini) terpinggirkan oleh materi film anak-anak yang kita tahu sendiri berlatar belakang budaya asing. Bisa kita bayangkan andaikata generasi muda kita kelak akan lebih mirip anak-anak negeri Sakura yang bodoh, ataupun anak-anak negeri Paman Sam yang bodoh ketimbang anak-anak Indonesia yang cerdas, terampil, dan tahu tata karma dalam budaya kita.
Dewasa ini, film anak-anak yang mondar-mandir di layar kaca telah mengundang banyak gugatan. Ketua Penelitian dan Pengembangan Lembaga Studi Pers dan Informasi (Lespi), Wisnu Tri Hanggoro, misalnya, menilai, banyak film yang aktornya anak-anak dan film animasi yang ditayangkan di stasiun televisi justru tidak memberikan pendidikan pada anak sebagai penontonnya. Justru banyak film anak yang memperlihatkan unsur kekerasan dan kebencian terhadap sesama, tuturnya dalam Lokakarya “Menonton Televisi Secara Sehat” (11/8/2009). Tri Hanggoro juga menambahkan bahwa acara televisi yang aktornya anak-anak justru banyak yang membodohkan karena selain sering menyajikan hal-hal yang tidak logis, juga mengandung kekerasan, dan kebencian terhadap sesama.
Dipayana dalam bukunya “Nabi Televisi, Malas Belajar dan Belajar Untuk Malas” (2004) mengatakan bahwa tayangan film anak-anak di televisi telah menanamkan paradigma dan perilaku yang sejalan dengan materi tayangan. Bisa disimpulkan bahwa film anak-anak telah memberikan sumbangan besar pada dekadensi moralitas serta terpinggirkannya nilai-nilai pendidikan dari keluarga, sekolah, atau bahkan pendidikan agama. Hal ini tercermin dari mengakarnya pengetahuan tentang film serta imbasnya dalam pembentukan karakter anak ketimbang nasehat, ceramah, dan tausiah.
Gugatan Tri Hanggoro maupun kajian Dipayana di atas, apabila secara jernih kita renungkan, memang ada benarnya, terutama pada film-film animasi. Film animasi merupakan genre film anak-anak yang paling mendominasi dari pada film bertema anak-anak. Apalagi stigma bahwa film animasi adalah film anak-anak menyingkirkan fakta bahwa tidak semua film animasi merupakan konsumsi anak-anak. Bagi yang doyan nge-search anime di internet pastilah memahami bahwa ada film animasi Jepang (manga) yang bergenre blue film (BF) yang kaprah disebut Hentai.
Film animasi, yang mayoritas merupakan produk impor, dalam tayangan televisi senantiasa berlabel SU (Semua Umur) dan masuk dalam kategori sebagai tayangan anak-anak. Parahnya, media menggiring opini orangtua untuk berjamaah mengamini pelabelan tersebut Akibatnya? Sungguh luar biasa. Berkembang toleransi, permisivisme besar, atau asyik-asyik aja… terhadap film-film itu untuk dikonsumsi anak-anak. Bahkan, saya pribadi pernah menjumpai keluarga yang membebaskan anaknya seharian penuh ditemani Cartoon Network melalui layanan Indovision.
Sebelum film animasi Jepang (manga) memiliki ruang perkembangan yang membuat banyak stasiun televisi menggendongnya kemana-mana, Walt Disney menjadi raja diraja film animasi dunia. Pada era tersebut, film animasi tidaklah bisa dikategorikan aman konsumsi bagi anak-anak kita. Coba kita kenang Mickey dan Minni, Donald dan Daisy, ataupun Goofie. Coba kita renungkan, sudah waktunyakah anak-anak kita yang belum akil baligh menikmati tayangan cerita bertema percintaan, plus dengan trik-trik menarik perhatian lawan jenis, merebut pacar, adegan percintaan seperti ciuman, mengirim surat dan bunga yang dilakukan tokoh-tokoh tersebut?
Film animasi produk Jepang pun senantiasa membubuhkan tema percintaan, kendati cuma tema sampingan. Mulai dari Sailor Moon yang identik dengan rok mini dan mottonya “Dengan Kekuatan Cinta Akan Menghukumnu!”, Dragon Ball, Detektif Conan, hingga Naruto. Jika kita tengok merebaknya kasus-kasus pedofilia yang dilakukan abg-abg, bukan tak mungkin diilhami oleh tokoh Jiraiya (Petapa Nakal) dalam Film Naruto yang hobby mengintip orang mandi. Bisa jadi perilaku negatif tokoh ini menjadi inspirasi dan berkembang tanpa terdeteksi karena mendapat asupan gizi buruk dari media televisi. Inspirasi ini kemudian meledak saat perkembangan usia memasuki masa pubertas sehingga gadis-gadis ingusan pun menjadi pelampiasan.
Berarti, film animasi juga memberikan dukungan penuh pada percepatan pertumbuhan libido pada anak-anak. Benarkah itu?
Selain tema-tema percintaan plus-plus, ada bumbu penyedap lain yang senantiasa hadir dalam jalinan cerita film-film animasi, yakni kekerasan. Kekerasan menjadi primadona dalam beragam tema film animasi. Bahkan dalam film animasi seperti Barbie, ataupun Tom & Jerry, kekerasan masih hadir dalam kemasan romantisme ataupun humor. Bisa jadi kita tidak putus-putus tertawa menyaksikan Tom yang ngeyel mengejar-ngejar Jerry namun tawa tersebut akan hilang tatkala menyaksikan anak-anak kita menirukan trik-trik mereka untuk menjatuhkan satu sama lain yang cenderung sadis.
Bahkan dalam film-film animasi yang murni bertema kekerasan seperti, Dragon Ball, Inuyasha, Samurai X, dan Naruto. Sadar atau tidak, pemirsa disuguhi pesan eksistensi seseorang semata bisa dibangun dengan menjadi yang terkuat (dalam hal fisik dan kekuasaan). Pemirsa yang notabene anak-anak dipaksa meyakini bahwa eksistensi mereka dapat dibangun dengan mengalahkan orang lain, seperti halnya Son Goku, Inuyasha, Naruto, dan Batosai Si Pembantai Padahal, eksistensi seorang manusia idealnya dibangun dengan menarik simpati dan kesan positif pada publik. Tentu saja hal ini sangat bertolak belakang dengan filosofi budaya masyarakat Indonesia (Jawa) yang mengajarkan untuk ‘sugih tanpa bandha’ (kaya tanpa kekayaan), ‘digdaya tanpa aji’ (perkasa tanpa ilmu tertentu), dan ‘menang tanpa ngasorake’ (menang tanpa harus mengalahkan).
Mari kita tengok bersama rentetan aksi-aksi kejahatan yang berbau kekerasan, aksi main hakim sendiri, tawuran antar mahasiswa/pelajar, anarkisme kelompok yang bermotif agama, ataupun bentrok antarwarga, besar kemungkinan merupakan efek negatif doktrinasi nilai-nilai kekerasan tayangan-tayangan film animasi. Mungkin sekali untuk dinilai terlalu menjustifikasi, mengingat banyaknya faktor penyebab lain seperti tingkat pendidikan, karakter demografi, menggejalanya krisis kepercayaan, dan lain sebagainya. Akan tetapi, apabila secara jujur kita renungkan, maka film animasi adalah satu faktor penyebab tumbuhnya paradigma kekerasan yang menjangkiti masyarakat kita dewasa ini.
Tidak ada paradigma maupun pola perilaku yang mendadak lahir tanpa proses panjang. Paradigma maupun pola perilaku berkembang dari proses transfer nilai yang kompleks dan multidimensi. Namun, satu hal yang menuntut untuk kita dasari bersama adalah fakta bahwa tayangan film-film animasi memiliki efek yang luar biasa dalam pembangunan paradigma, karakter, maupun pola perilaku pada diri seorang anak. Lakuan fisik seperti stilistika perilaku maupun pemakaian aksesoris yang meniru karakter dalam film animasi menjadi penanda bahwa proses transfer nilai tengah berlangsung. Nilai-nilai yang diterima memang tidak muncul secara tiba-tiba, namun pasti melalui proses perjalanan yang mungkin sekali memakan waktu. Sayangnya, penanda-penanda kecil yang menjadi cerminan proses transfer acap kali luput dari perhatian kita.
Suatu misal, ketika mendapati anak kita menjadi agresif. Kita terkadang hanya menilai bahwa anak tersebut nakal dan menuntut tindakan represif tanpa upaya menelusuri latar belakang agresifitas anak tersebut. Padahal, setiap hari film animasi telah mengambil peran guru dan mengajarkan banyak hal kepada anak kita tanpa kita sadari. Anak kita telah akrab dengan pukul ataupun jebakan ala Tom & Jerry. Anak kita telah dekat dengan sabetan pedang hitten mitsurugi Kenshin Himura. Anak kita telah mengenal romantika pacaran dari Sailor Moon. Bahkan, anak kita telah belajar mengalahkan teman-temannya seperti halnya Naruto, Sasuke, dan Sakura. Kita tak sadar bahwa tontonan adalah tuntunan. Mungkin terlihat bahwa anak-anak kita hanya bersantai menjadi penonton. Namun, marilah kita sadari bahwa anak-anak kita juga sedang belajar (di bawah bimbingan Guru Film Animasi).
Apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua? Bukanlah sebuah masalah yang besar dan sulit kita lakukan andaikata kita melakukan pengurangan jam tonton, pemilah-milahan judul yang layak tonton, serta pendampingan pada saat menonton. Tetapi, yang cenderung rumit adalah teknik penyampaian yang kita gunakan. Anak kita bisa diberikan pengertian plus tawaran yang lebih menarik, untuk tidak hanya menonton film animasi. Teknik represif menjadi pilihan paling akhir, satu dua sanksi kita berikan apabila anak-anak kita menunjukkan keengganan.
Kita memang tidak boleh total melarang anak-anak kita menjadi penikmat film animasi. Akan tetapi, dari sekian banyak film animasi yang ditayangkan oleh stasiun televisi ada juga yang memberikan efek negatif apabila tidak disertai pendampingan dan pengertian dari orang tua.

 Email: anantaanandswami@gmail.com
Sumber: